Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Terbaru

Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Terbaru –¬† Kemarin sudah dibahas tentang kumpulan 15 contoh¬† puisi singkat dan juga pendek tentang apa saja. Nah kali ini akan dibahas kumpulan contoh puisi kemerdekaan 17 agustus 1945 yang bisa dijadikan referensi lomba baca puisi 17 agustus yang pastinya terbaru dan terlengkap di tahun 2016. Pada tanggal 17 agustus 2016, Indonesia akan merayakan HUT RI (Hari Ulang Tahun) Republik Indonesia yang ke 71 Tahun, untuk merayakannya banyak kegiatan dan lomba lomba seperti lomba baca puisi 17 agustusan.

Kumpulan Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Terbaru Tahun 2016

Judul : Merdeka Dalam Euphoria
Oleh: Nyi Parah

Tuan berlomba panjat pinang
Sikut kiri, tendang kanan
Kawan bertanduk menjadi lawan
Sahabat dekat suguhkan khianat

Tuan berlomba panjat pinang
Sikut kiri tendang kanan
Taring tersembul di balik topeng pencitraan
Demi sebuah kekuasaan

Bila Tuan berlomba panjat pinang
Kursinya njomplang
Kawula tunggang langgang
Emas berlian pun melayang
Ikut plesiran ke tanah sebrang: lupa pulang.

Judul : Untuk Sang Presiden
Oleh : Asyifa Fakhirah Shakilla

Cakrawala di langit ke-16 sudah menulis takdir
Panjang bambu-bambu pun sudah mengukir
Ini sebuah sejarah dari sang proklamator
Kenapa harus ternoda oleh si koruptor?

Lihat kawanku diseberang kali
Mereka menangis untuk sebuah nasi
Meski sesuap, syukur akan mengalir dihati

Hari tujuh belas telah pergi
Enam puluh tahun lebih kita berjalan
Kau sadar itu, Pak Presiden?
Perubahan macam ini yang tertuang di kitabmu?

Judul : Racauan Tentara Sekarat
Oleh : Rafi Izam

Tenggorokanku meradang kering
Air pun tak sanggup meredakan tenggorokan
Bahkan oleh air hangat dari saring
Aku ingin berdiri tegap seperti masa penjajahan

BACA :  Contoh Teks Eksemplum Singkat Pengalaman Pribadi

Malaikat Izrail kian mengetuk jendela secara stagnan
Itu bukan pendengaranku yang salah
Ingin kukobarkan lagi semangat pemuda sekarang
Meskipun tangan kokoh yang dulu memegang senjata kian melemah

Mataku berair membuncah air mata
Ketika melihat tanah air kubela dulu
Tanah yang kaya akan rempah rempah dan gunung permata
Semuanya menjadi memudar dan sia sia

Muda dulu, kuisi dengan perjuangan dan rela ditembak
Aku dan temanku berjuang seolah memiliki banyak nyawa
Setiap malam, aku melantunkan Alam Nasyrah
Agar dilapangkan perang kami

Yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah
Saat perang, temanku menahan darah pada mulutnya
Dia mati muda membela tanah air
Tanah air dengan rempah rempahnya

Kini, aku sekarat dengan penyakit tua
Giliran kalian memegang lilin yang kupegang dengan ruai
Lilin yang menyinarkan bangsa tua ini
Jadikan lilin itu seterang matahari

Biarlah kalian tak punya teman
Asalkan dia hendak menghancukan bangsamu sendiri
Saudara adalah orang yang meludahimu saat kalian mengalami distorsi
Kita semua adalah saudara

Pemuda pemudi sekarang memang beruntung
Kalian tidak menyimpan pistol daripada ponsel pintar di laci
Biar tidak menjadi korban agresi militer
Kalian hanya melanjutkan perjuangan ini selama kami pergi

Judul : Sudahkah Merdeka?
Oleh : Aslan Yakuza

Indonesia, bukan terpecah, hanya terpisah antar pulaunya
dirangkum menjadi negara
Indonesia, merdeka di tahun 1945
bebas dari penjajah, rakyatnya masih sengsara
sudahkah merdeka?

Indonesia, kaya tanahnya, berlimpah budaya, semua katanya
Indonesi, dijajah isinya, melarat jadinya
sudahkah merdeka?

Indonesia, perlahan benamkan budaya
tersisih pribuminya, kenyang pendatangnya
sudahkah merdeka?

Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustusan

Judul : Di manakah Kemerdekaan?
Olehleh : Agatha Vonilia

Proklamasi!
Proklamasi!
Proklamasi dikumandangkan
Genderang kemerdekaan bertalu-talu di seluruh penjuru negeri

BACA :  Contoh Puisi Horor Paling Seram Pendek Baru 2016

Tangisan kebahagiaan
Pelukan-pelukan hangat
Membanjiri seluruh sudut kota
Bahkan semangat pun berkobar

17 Agustus 1945
Hingar-bingar merajai pelosok-pelosok negeri
17 Agustus 2015
Kemerdekaan luluh lantak

Keadilan perlu dipertanyakan
Kemiskinan semakin merajalela
Pendidikan milik para pejabat
Kesejahteraan hanya ilusi belaka

Di manakah Kemerdekaan?

Judul : Merdeka Tentang
Oleh : Tati Suryani

Kemerdekaan kini telah berubah haluan
Terjajah penjajah dalam kemiskinan ekonomi sosial budaya
Paha-paha liar terpamer modernisasi
Kebebasan jadi budaya hak asasi

Kakek pejuang meski tanpa bintang tanda jasa
Malam-malam mengintai di sepi semak belukar
Meraut bambu hingga runcing
Memasang jebakan hingga musuh datang terpancing

Kemerdekaan gaung kembali di tiang bendera
Kobarkan semangat jiwa raga
Anak-anak sekolah giat berlatih upacara bendera
Anakku yang kecil jadi ikut euforia

Kita takkan jatuh hanya karena mafia
Kita takkan berpisah hanya karena tolikara
Kita adalah bhineka tunggal ika
Karena kita adalah Indonesia

Judul : Kemerdekaan?
Oleh : Fantasmi Multipli

Proklamasi sudah sedari dulu
Menggaung merdu ke semua penjuru
Euforia bertalu-talu

Negara sudah merdeka
Penjajah kembali ke asalnya
Membawa dendam beserta dirinya
Mengatur siasat kembali ke Indonesia

Modernisasi
Itulah rencana mereka kini
Banyak yang menyalahkan arti
Hingga tenggelam budaya bangsa ini

Dulu para pejuang membawa senjata
Bambu runcing dan sejenisnya
Darah bertumpah ruah
Menyebarkan duka dan lara

Kemerdekaan telah diraih mereka
Namun generasi selanjutnya menyia-nyiakannya
Tak ada lagi perjuangan
Hanya peringatan yang menjerumus ke kemaksiatan

Benarkah negara sudah merdeka?
Walau rakyat harus meminta-minta demi sesuap nasi untuknya
Walau anak-anak harus membanting tulang saat seharusnya ia tertawa
Walau para wanita disiksa dan teraniaya oleh sekitarnya

Pemuda mulai meragukannya

Judul : MERDEKAKAH KITA
Oleh : Derry S. Muhalim

Sudah merdeka atau sudah bebas kita dari penjajah?
Tetapi kenapa masih ada anak-anak yang teraniaya
Anak tiri apalagi anak sendiri
Bahkan sampai mencium tanah dan kaku membusuk

Manusia dijual belikan seperti mainan
Mainan dibeli diobralan
Dibudaki uang, nafsu-nafsu wanita otak bejat
Siapa tak produksi dan membantah dibikin mati

Merdekakah kita …?
Ada berita, disana-sana masih ada orang memakan nasi aking
Orang yang duduk dibelakang meja asyik membaca koran
Beritanya dilewatkan, ah … abaikan saja katanya

Merdeka atau mati?
Sekarang berubah konotasi
Yang merdeka, yang sukses jadi dewan berdasi
Yang mati, yang miskin tak punya nama dan peti mati

Merdeka … jadi simbol lomba-lomba
Merdeka … dimeriahkan lalu dilupakan
Dirayakan tetapi bangsa belum raya

Ah … sudahlah! Pusing jadinya
Diri ini juga belum merdeka
Merdeka lepas dari kesengsaraan

Share This